Senin, 24 Oktober 2011

" BERBAHAGIALAH ORANG-ORANG YANG SAKIT "



Secara rutin satu bulan sekali kami para menderita penyakit seperti diabetes, hypertensi, jantung dan lain sebagainya diharuskan untuk melakukan control dan sekaligus untuk memperoleh obat untuk jatah selama sebulan ke poliklinik Dalam Rumah Sakit Umum Abdl.Wahab Syahranie. Pada kesempatan kunjungan rutin ke poliklinik dalam tersebut sekaligus dianggap oleh teman-teman sesama pasien tetap rawat jalan dianggap sebagai reuni bulanan sekaligus bersilaturahim .
Yang menggembirakan didalam pertemuan sesama penderita sambil menunggu antrian giliran panggilan untuk diperiksa oleh dokter spesialis atau antrian di apotek mengambil obat kadang-kadang diselingi dengan gurauan-gurauan sehinga hilanglah rasa jenuh.
Salah seorang diantara kami pernah mengatakan : “ sebenarnya orang-orang yang menderita sakit seperti kita-kita inipatut merasa berbahagia karena akibat sakit yang diderita selama ini telah menghapuskan atau menggugurkan kesalahan-kesalahan bagaikan daun-daun kering yang rontok berjatuhan “

Sesungguhnya apa yang disebutkan teman tersebut diatas benar adanya karena kata-kata yang disampaikannya tersebut merupakan kalimat penggalan dari hadits Rasulullah shalallahu’alaihi wasalam sebagai berikut :
“Tidaklah seseorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah-gulanan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya.” (HR. Bukhari).
Dari pengertian hadits Rasullullah tersebut diatas maka dapatlah dimaknai bahwa hal-hal yang kecil seperti keletihan, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundahan, penyakit yang diderita hingga duri yang menusuk merupakan penderitaan yang menimpa manusia.Dimana hal-hal yang dirasakan oleh manusia sebagai penderitaan di dunia oleh Allah yang Maha Pengampun dan Maha Pengasih akan diberikan imbalan berupa dihapuskannya sebagian dari kesalahan-kesalahannya. Yang berarti dihapuskannya dosa akibat kesalahan yang pernah dilakukannya.

Penghapusan sebagian kesalahan ini merupakan hadiah khusus dari Allah kepada hamba-hambanya sehingga akan mengurangi beban dosa yang ada, dan ini tiada lain sesungguhnya adalah sebagai bentuk kebahagian tersendiri bagi orang-orang yang menderita sakit, apalagi bagi mereka yang menderita sakit berkepanjangan. Dengan tanpa meminta ampun atas kesalahan-kesalahan yang telah dilakukannya, Allah Subhanahu Ta’ala secara otomatis menghapuskan sebagian kesalahan sipenderita.
Selain terhadap orang-orang yang sakit tentunya terdapat perbedaan dimana Allah Yang Maha Pengampun tentunya tidak akan menghapuskan kesalahan-kesalahan ataupun dosa-dosa begitu saja tanpa adanya permintaan ampun dan tanpa melakukan kebaikan-kebaikan yang diperintahkan Allah sebagai persyaratan datangnya pengampunan dari Allah Subhanahu Ta’ala. Karena permintaan ampun kepada Allah Ta’ala oleh hamba-hambanya atas kesalahan dan dosa-dosanya adalah merupakan syarat mutlak datangnya pengampunan. Selain itu berbuat kebaikan-kebaikan yang diperintahkan juga merupakan usaha untuk menghapus kesalahan-kesalahan. Seperti melakukan sholat baik fardhu maupun sunat.

Penyakit Merupakan Musibah Sebagai Ketetapan Dari Allah
Sebagaimana yang sering diriwayatkan dari sumber yang shahih, bahwa seluruh makhluk yang diciptakan Allah mengikuti skenario yang telah digariskan oleh Allah Subhanahu Ta’ala dalam takdir 50.000 tahun sebelum bumi diciptakan, yang tentunya termasuk di dalamnya segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan bani adam baik berupa kebahagian atau kesengsaraan seperti musibah yang menimpa manusia, baik yang sifatnya berbentuk musibah kecil untuk masing-masing orang seperti menderita sesuatu penyakit maupun musibah berskala besar yang menimpa umat manusia. Hal tersebut ditegaskan dalam firman Allah Subhanahu Ta’ala :

وَإِن يَمْسَسْكَ اللّهُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلاَ رَآدَّ لِفَضْلِهِ يُصَيبُ بِهِ مَن يَشَاء مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ ( QS. Yunus : 107 )

Apapun yang menimpa manusia berupa takdir sebagai suatu ketetapan yang datangnya dari Allah Subhanahu Ta’ala tidak akan lepas dari manusia seperti yang disebutkan Allah dalam firman-Nya
قُلْ لَنْ يُصِيْبَنَا إلاَّ مَا كَتَبَ اللهُ لَنَا هُوَ مَوْلاَنَا وَعَلَى اللهِ فَاْليَتَوَكَّلِ اْلمُؤْمِنُوْنَ
Katakanlah: Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal”( QS.at-Taubah : 51 )
Sesungguhnya musibah dan bencana merupakan bagian dari takdir Allah Yang Maha Bijaksana. Allah ta’ala berfirman,
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Tidaklah menimpa suatu musibah kecuali dengan izin Allah. Barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya.” (Qs. at-Taghabun: 11)
Ibnu Katsir rahimahullah menukil keterangan Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma bahwa yang dimaksud dengan izin Allah di sini adalah perintah-Nya yaitu ketetapan takdir dan kehendak-Nya. Beliau juga menjelaskan bahwa barang siapa yang tertimpa musibah lalu menyadari bahwa hal itu terjadi dengan takdir dari Allah kemudian dia pun bersabar, mengharapkan pahala, dan pasrah kepada takdir yang ditetapkan Allah niscaya Allah akan menunjuki hatinya. Allah akan gantikan kesenangan dunia yang luput darinya -dengan sesuatu yang lebih baik, pent- yaitu berupa hidayah di dalam hatinya dan keyakinan yang benar. Allah berikan ganti atas apa yang Allah ambil darinya, bahkan terkadang penggantinya itu lebih baik daripada yang diambil. Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma ketika menafsirkan firman Allah (yang artinya), “Barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan menunjuki hatinya.” Maksudnya adalah Allah akan tunjuki hatinya untuk merasa yakin sehingga dia menyadari bahwa apa yang -ditakdirkan- menimpanya pasti tidak akan meleset darinya. Begitu pula segala yang ditakdirkan tidak menimpanya juga tidak akan pernah menimpa dirinya Beliau -Ibnu Katsir- juga menukil keterangan al-A’masy yang meriwayatkan dari Abu Dhabyan, dia berkata, “Dahulu kami duduk-duduk bersama Alqomah, ketika dia membaca ayat ini ‘barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan menunjuki hatinya’ dan beliau ditanya tentang maknanya. Maka beliau menjawab, ‘Orang -yang dimaksud dalam ayat ini- adalah seseorang yang tertimpa musibah dan mengetahui bahwasanya musibah itu berasal dari sisi Allah maka dia pun merasa ridha dan pasrah kepada-Nya.” Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim di dalam tafsir mereka. Sa’id bin Jubair dan Muqatil bin Hayyan ketika menafsirkan ayat itu, “Yaitu -Allah akan menunjuki hatinya- sehingga mampu mengucapkan istirja’ yaitu Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa ayat di atas berlaku umum untuk semua musibah, baik yang menimpa jiwa/nyawa, harta, anak, orang-orang yang dicintai, dan lain sebagainya. Maka segala musibah yang menimpa hamba adalah dengan ketentuan qadha’ dan qadar Allah. Ilmu Allah telah mendahuluinya, kejadian itu telah dicatat oleh pena takdir-Nya. Kehendak-Nya pasti terlaksana dan hikmah/kebijaksanaan Allah memang menuntut terjadinya hal itu. Namun, yang menjadi persoalan sekarang adalah apakah hamba yang tertimpa musibah itu menunaikan kewajiban dirinya ketika berada dalam kondisi semacam ini ataukah dia tidak menunaikannya? Apabila dia menunaikannya maka dia akan mendapatkan pahala yang melimpah ruah di dunia dan di akherat. Apabila dia mengimani bahwasanya musibah itu datang dari sisi Allah sehingga dia merasa ridha atasnya dan menyerahkan segala urusannya -kepada Allah - niscaya Allah akan tunjuki hatinya. Dengan sebab itulah ketika musibah datang hatinya akan tetap tenang dan tidak tergoncang seperti yang biasa terjadi pada orang-orang yang tidak mendapat karunia hidayah Allah di dalam hatinya. Dalam keadaan seperti itu Allah karuniakan kepada dirinya -seorang mukmin- keteguhan ketika terjadinya musibah dan mampu menunaikan kewajiban untuk sabar. Dengan sebab itulah dia akan memperoleh pahala di dunia, di sisi lain ada juga balasan yang Allah simpan untuk-Nya dan akan diberikan kepadanya kelak di akherat. Hal itu sebagaimana yang difirmankan Allah ta’ala (yang artinya), “Sesungguhnya hanya akan disempurnakan balasan bagi orang-orang yang sabar itu dengan tanpa batas hitungan.”
Beliau melanjutkan, dari sinilah dapat dimengerti bahwa barang siapa yang tidak beriman terhadap takdir Allah ketika terjadinya musibah dan dia meyakini bahwa apa yang terjadi sekedar mengikuti fenomena alam dan sebab-sebab yang tampak niscaya orang semacam itu akan dibiarkan tanpa petunjuk dan dibuat bersandar kepada dirinya sendiri. Apabila seorang hamba disandarkan hanya kepada kekuatan dirinya sendiri maka tidak ada yang diperolehnya melainkan keluhan dan penyesalan yang hal itu merupakan hukuman yang disegerakan bagi seorang hamba sebelum hukuman di akherat akibat telah melalaikan kewajiban bersabar. Di sisi yang lain, ayat di atas juga menunjukkan bahwasanya setiap orang yang beriman terhadap segala perkara yang diperintahkan untuk diimani, seperti iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, takdir yang baik dan yang buruk, dan melaksanakan konsekuensi keimanan itu dengan menunaikan berbagai kewajiban, maka sesungguhnya hal ini merupakan sebab paling utama untuk mendapatkan petunjuk Allah dalam menyikapi keadaan yang dialaminya sehingga dia bisa berucap dan bertindak dengan benar. Dia akan mendapatkan petunjuk ilmu maupun amalan. Inilah balasan paling utama yang diberikan Allah kepada orang-orang yang beriman. Maka orang-orang beriman itulah orang yang hatinya paling mendapatkan petunjuk di saat-saat berbagai musibah dan bencana menggoncangkan jiwa kebanyakan manusia. Keteguhan itu ditimbulkan dari kokohnya keimanan yang tertanam di dalam jiwa mereka
Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwa di dalam ayat di atas terkandung beberapa pelajaran yang agung, yaitu:
1.Segala musibah yang menimpa itu terjadi dengan qadha’ dan qadar dari Allah ta’ala.
2.Merasa ridha terhadap takdir tersebut dan bersabar dalam menghadapi musibah merupakan bagian dari nilai-nilai keimanan, sebab Allah menamakan sabar di sini dengan iman.
3.Kesabaran itu akan membuahkan hidayah menuju kebaikan di dalam hati dan kekuatan iman dan keyakinan.

Sabar Dalam Menghadapi Penyakit
Mengingat penyakit yang disandang oleh para penderita merupakan bagian dari musibah, maka diperlukan adanya kesabaran dengan menjauhkan dan meninggalkan segala bentuk keluh kesah, sebagaimana Allah Subhanahu Ta’ala dalam al-Qur’an menceritakan tentang kesabaran Nabi Ayyub dalam menghadapi penyakit kulit yang dideritanya.Berkenaan dengan cerita kesabaran Nabi Ayyub ini kami kutipkan tulisan Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar dalam Blog.Asy-Syariah. Disebutkan bahwa salah satu pelajaran penting yang bisa diambil dari kisah Nabi Ayyub adalah bahwa kesabaran yang dimiliki seorang hamba ketika menghadapi sebuah musibah, akan senantiasa menghasilkan kebaikan. Karena memang sudah menjadi kepastian dari Allah Subhanahu Ta’ala bahwa ketika seorang hamba mampu bersikap sabar atas sebuah musibah yang menimpanya, maka Allah akan memberikan banyak kebaikan kepadanya. Sebagaimana Nabi Ayyub alaihisalam yang ditimpa penyakit kulit yang demikian hebat, namun beliau senantiasa bersabar dan ridha dengan apa yang menimpanya. Akhirnya Allah Ta’ala pun menyembuhkannya dan mengganti musibah itu dengan berbagai kenikmatan.
Al-Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menukilkan dari Ibnu ‘Abbas radhyallahu anhuma bahwa Nabi Ayyub alaihisalam dinamakan demikian karena beliau selalu kembali (dari kata ) kepada Allah segenap keadaannya.
Beliau termasuk nabi dari keturunan Bani Israil dan hamba Allah yang pilihan. Allah menyebut namanya dalam Kitab-Nya dan memuji dengan pujian yang baik, terutama terhadap kesabarannya dalam menghadapi ujian yang beliau alami.
Allah Subhanahu Ta’ala berfirman :
وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
-
فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِن ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُم مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ
Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia menyeru Rabbnya: ‘(Ya Rabbku), sesung-guhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Rabb Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang’. Maka Kamipun memper-kenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Rabb Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.”
Doa tersebut dikabulkan oleh Allah Subahanahu Ta'ala yang kemudian melepaskan beliau dari semua musibah yang menimpa beliau.

Demikianlah penderitaan Nabi Ayyub alaihisalam. Dan ini telah diisyaratkan oleh Rasulullah n dalam hadits Sa’d bin Abi Waqqash
“Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya?” Kata beliau: “Para Nabi, kemudian yang seperti mereka dan yang seperti mereka. Dan seseorang diuji sesuai dengan kadar dien (keimanannya). Apabila diennya kokoh, maka berat pula ujian yang dirasakannya; kalau diennya lemah, dia diuji sesuai dengan kadar diennya. Dan seseorang akan senantiasa ditimpa ujian demi ujian hingga dia dilepaskan berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak mempunyai dosa.” (Shahih, HR. At-Tirmidzi)

Dari uraian yang disajikan diatas maka kita dapat mengambil manfaat bahwa, penyakit yang diderita oleh seseorang merupakan bagian dari musibah yang datangnya sesuai dengan ketetapan Allah Subhanahu Ta’ala yang harus dihadapi dengan kesabaran tanpa keluh kesah yang tentunya diikuti dengan ikhtiar melakukan pengobatan yang sesuai dengan syar’i, tidak berobat kedukun, orang pintar atau paranormal.Selanjutnya perlu diketahui bahwa orang-orang yang menderita sakit oleh Allah akan diberikan imbalan berupa kebaikan dengan digugurkannya/dihapuskannya sebagian dari kesalahan-kesalahannya ( Wallahu Ta’ala ‘alam)
Sumber : Asy-Syariah.com
27 Dzulqa’idah 1432 H/24 Oktober 2011
( Musni Japrie )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar