Minggu, 31 Juli 2016

MEMBUDAYAKAN AGAMA ISLAM DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI ( BAG.KE 2 )

Mengingat pentingnya menjadikan agama sebagai budaya/kebisaan dalam kehidupan sehari-hari bagi setiap muslim, maka perlu dilakukan berbagai langkah usaha antara lain :
1.  Menuntut ilmu syar’i
Seseorang tidak akan dapat mengetahui secara benar bagaimana cara beragama yang sesuai dengan syari’at yang telah digariskan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah apabila tidak mempunyai ilmu. Sehingga ilmu adalah kunci masuk untuk dapat mengamalkan segala apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang menjadi larangan.Karena ilmu agama lah yang akan menyelamatkan kita dari segala kejelekan dan kebinasaan.
Menuntut ilmu agama selain memberikan bekal bagi penuntutnya sehingga mempunyai kemampuan juga mempunyai banyak keutamaan antara lain sebagaimana yang disebutkan dalam hadits  yang diriwayatkan Abu Daud sbb :
سنن أبي داوود ٣١٥٧: حَدَّثَنَا مُسَدَّدُ بْنُ مُسَرْهَدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دَاوُدَ سَمِعْتُ عَاصِمَ بْنَ رَجَاءِ بْنِ حَيْوَةَ يُحَدِّثُ عَنْ دَاوُدَ بْنِ جَمِيلٍ عَنْ كَثِيرِ بْنِ قَيْسٍ قَالَ
كُنْتُ جَالِسًا مَعَ أَبِي الدَّرْدَاءِ فِي مَسْجِدِ دِمَشْقَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا أَبَا الدَّرْدَاءِ إِنِّي جِئْتُكَ مِنْ مَدِينَةِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِحَدِيثٍ بَلَغَنِي أَنَّكَ تُحَدِّثُهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا جِئْتُ لِحَاجَةٍ قَالَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْوَزِيرِ الدِّمَشْقِيُّ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ قَالَ لَقِيتُ شَبِيبَ بْنَ شَيْبَةَ فَحَدَّثَنِي بِهِ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي سَوْدَةَ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ يَعْنِي عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَعْنَاهُ\
Sunan Abu Daud 3157: dari Katsir bin Qais ia berkata, "Aku pernah duduk bersama Abu Ad Darda di masjid Damaskus, lalu datanglah seorang laki-laki kepadanya dan berkata, "Wahai Abu Ad Darda, sesungguhnya aku datang kepadamu dari kota Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam karena sebuah hadits yang sampai kepadaku bahwa engkau meriwayatannya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Dan tidaklah aku datang kecuali untuk itu." Abu Ad Darda lalu berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa meniti jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan mempermudahnya jalan ke surga. Sungguh, para Malaikat merendahkan sayapnya sebagai keridlaan kepada penuntut ilmu. Orang yang berilmu akan dimintakan maaf oleh penduduk langit dan bumi hingga ikan yang ada di dasar laut. Kelebihan seorang alim dibanding ahli ibadah seperti keutamaan rembulan pada malam purnama atas seluruh bintang. Para ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang banyak."
Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menuntut ilmu, antara lain melalui jalur pendidikan formal dibangku sekolah dan pesantren atau mahad, sedangkan pendidikan non formal dapat ditempuh melalui mengikuti/menghadiri majelis pengajian/ilmu atau mejelis ta’lim, mempelajari buku-buku agama, melalui atau menggunakan falisitas teknologi informasi/internet  yang begitu banyak menyajikan kontens berisi artikel yang membahas agama secara lengkap.
Patut untuk menjadi perhatian bagi kita seluruhnya bahwa orang bodoh yang tidak memiliku ilmu tentang agama  akan sulit untuk merasa takut kepada Allah, karena Rabbul ‘alamin telah berfirman,
وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan je- nisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba- Nya, hanyalah ulama ( orang yang berilmu )]. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Ma- ha Pengampun.(QS.Faathir : 28 )
Cabang-cabang ilmu agama yang perlu mendapatkan perhatian untuk dipelajari dan didalami antara lain tentang aqidah/tauhid, fiqih, adab dan akhlak  dan banyak petunjuk-petunjuk penting  lainnya . Syarat untuk berhasilnya perolehan  ilmu agama itu adalah perlunya keseriusan dan istiqomah tidak setengah-setengah serta diperlukan kesabaran. Karena istiqomah dan kesabaran itu adalah kunci keberhasilan dalam menuntut ilmu. Tanpa istiqomah dan kesabaran dalam menuntut ilmu mustahil ilmu yang diharapkan dapat diperoleh.
Menuntut ilmu itu dilakukan harus berkelanjutan dan terus tanpa henti sampai akhir hayat, seseorang yang menuntut ilmu mestinya merasa semakin dituntut ilmu itu maka semakin terasa bahwa ia masih bodoh dan masih banyak dirasakan kekurangan dan semakin disadarinya  masih banyak ilmu yang belum diketahuinya. Dengan dimilikinya ilmu tentang agama sebagai ilmu yang bermanfaat , maka setiap umat muslim dapat menjalankan segala perintah dan larangan yang diatur dalam syari’at berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai amalan sehari-hari.
Sehubungan dengan itu menuntut ilmu itu tidak boleh berhenti, melainkan terus berlanjut karena menuntut ilmu itu sebagai mengkaji ulang sesuatu yang mungkin sudah terlupakan.
 2.Mengamalkan / mengaplikasikan seluruh ilmu yang telah diperoleh
Ilmu agama yang telah diperoleh dengan susah payah tidak akan mempunyai arti dan tidak ada nilainya apabila tidak diamalkan/diaplikasikan atau dipraktekkan dalam keseharian. Sehingga setelah kita memperoleh sesuatu yang disyari’atkan meskipun sedikit harus segera diterapkan atau diamalkan. Sebagai contoh apabila kita telah mengetahui tentang dzikir pagi dan petang maka segera berusaha mendapatkan teks dzikir tsb kemudian membacanya pada setiap pagi dan sore hari. Hal ini adalah sebagian kecil membudayakan atau membiasakan agama dalam kehidupan sehari-hari.
Pengamalaan atau pengaplikasikan segala sesuatu yang berhubungan dengan syari’at islam hendaknya dilakukan untuk keseluruhan ,tidak boleh memilih atau membatasi diri hanya kepada yang mudah atau yang gampang saja.Tidak hanya terbatas melakukan hal-hal yang bersifat fardhu saja namun meninggalkan yang hal-hal yang bersifat sunnah., Tidak memilah-milah urusan tertentu saja dan meninggalkan yang lainnya. Tidak membatasi hanya kepada hal-hal yang dianggap utama namun meninggalkan hal-hal yang dinilai kurang penting.
 Syari’at islam yang didasarkan kepada al-Qur’an dan as-Sunnah sesungguhnya sangatlah lengkap, sampai-sampai kepada hal yang kecil dan dianggap remeh telah diatur , sebagai contoh tentang tatacara bagaimana adab buang air diajarkan dalam sunnah Rasul. Apalagi terhadap hal-hal yang penting dan utama tentunya juga diatur secara lengkap. Aturan-aturan tersebut seyogyanya diterapkan dan dijadikan budaya dalam kehidupan sehari-hari oleh segenap umat muslim.
Membudayakan agama dalam kehidupan sehari-hari oleh segenap umat islam dengan berpegang teguh kepada syari’at berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah telah diperintahkan oleh Allah ta’ala sesuai firman-Nya dalam al-Qur’an surah  Az Zukhruf (43) ayat 43 :
فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ إِنَّكَ عَلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus.
Umat muslim yang membudayakan agama dalam kehidupan sehari-harinya adalah orang-orang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada agamanya   sebagai  realisasi dari firman Allah ta’ala dalam surah An Nisaa (4) ayat 175:
فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُواْ بِاللّهِ وَاعْتَصَمُواْ بِهِ فَسَيُدْخِلُهُمْ فِي رَحْمَةٍ مِّنْهُ وَفَضْلٍ وَيَهْدِيهِمْ إِلَيْهِ صِرَاطًا مُّسْتَقِيمًا
Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.

Dengan menjadikan agama sebagai budaya dalam kehidupan sehari-harinya oleh segenap kaum muslimin, berarti mereka telah menyerahkan dirinya kepada Allah ta’ala .Allah ta’ala berfirman  dalam surah Luqman (31) ayat 22-
وَمَن يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ
Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.
3.Istiqomah dan sabar
Membudayakan agama atau membiasakan hidup dengan mengamalkan ajaran agama dalam  kehari-hariannya bagi umat muslim diperlukan keseriusan dan istiqomah serta kesabaran.
Serius berarti dilakukan secara bersungguh-sungguh, karena bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu merupakan syarat mutlak untuk diperolehnya keberhasilan. Bagaimana amalan yang diperintahkan agama dapat dilaksanakan dengan baik kalau dilakukan dengan setengah hati dan ragu-ragu. Mengamalkan syari’at agama dalam kehidupan se-hari-hari penuh tantangan, hambatan dan godaan . Apabila tidak mempunyai kesungguhan maka begitu mendapatkan tantangan dan hambatan atau godaan sedikit saja langsung mundur.
Godaan yang terbesar dalam membiasakan diri mengamalkan syari’at agama di kehidupan sehari hari adalah godaan dari syetan yang menghalangi manusia untuk melakukan keta’atan kepada Allah dan Rasul, syetan mengajak agar manusia melakukan pelanggaran dengan melakukan perbuatan mungkar dan maksiat.
Istiqomah dalam membudayakan atau membiasakan diri mengamalkan ajaran agama bagi umat muslim adalah dengan konsisten berpegang teguh kepada upaya yang dilakoni.
Istiqomah dalam membudayakan agama berarti konsisten dan berpegang teguh dengan amalan-amalan yang digariskan, konsisten untuk setiap waktu dan keadaan  dalam mengamalkan seluruh perintah dan larangan. Seandainya hari ini dan hari-hari sebelumnya  telah melaksanakan apa yang menjadi perintah dan meninggalkan apa yang dilarang oleh  agama, maka  esok harinya dan hari hari berikutnya harus tetap melakukan amalan yang yang dilakukan kemarin dan hari sebelumnya tsb. Jadi istiqomah dalam membudayakan agama dalam kehidupan sehari hari adalah secara rutin mengikuti petunjuk agama serta  melanggengkannya
Kesabaran  dalam membiasakan hidup sehari-hari sesuai dengan tuntunan agama mutlak diperlukan, apalagi kalau pada hari-hari sebelumnya kita belum terbiasa melakukannya, karena untuk berbuat kebaikan butuh kesabaran kalau tidak sabar akan mundur dan syetan akan menyorakinya. Dengan kesabaran insya Allah akhirnya apa yang diharapkan dapat diperoleh. Wallahu ta’ala ‘alam
( B e r s a m b u n g ) 
Tepian Mahakam, 17 Syawal 1437 H
By : Abu Farabi al-Banjari
Sumber :
1.    Al-Qur’an dan Terjemahan ,www.SalafiDB.4.0
Ensiklopedi Kitab Hadits 9 Imam , www.Lidwapusaka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar